![]() |
| Sumber pic dari pexels dan saya edit lagi |
Minggu pagi yang sedikit cerah, namun saya kesiangan karena mengerjakan deadline yang begitu numpuk semalaman. Pagi ini saya harus terburu-buru menuju stasiun, karena hari ini saya ada janji untuk bertemu dengan seseorang.
Kami berjanji bertemu pukul 3 sore, sedangkan sekarang sudah pukul 11 pagi. Jarak antara tempat kost menuju tempat pertemuan kami itu lumaya jauh. Seharusnya saya bisa sampai tepat waktu jika tidak ada halangan lain.
Tapi mungkin Tuhan punya rencana berbeda dengan yang sudah saya susun, hari ini kereta sedikit terlambat sekitar setengah jam. Saat itu juga saya harus antri untuk membeli kartu trip/ticket. Bodohnya lagi saya lupa membawa kartu KMT, yang harusnya tidak perlu antri tapi malah harus ikut baris dan menunggu.
Antriannya begitu panjang, mungkin karena hari libur dan tanggal muda juga, jadi wajar banyak orang yang berpergian untuk liburan.
Butuh kesabaran mengantri di bagian paling bealakang.
Tapi pada akhirnya saya bisa dapat ticket walaupun harus menunggu lagi kereta yang telat 30 menit. Sialnya lagi HP saya Lowbet, lengkap sudah hari ini sepertinya.
***
Jangan lupa baca juga : Untukmu Yang Pertama Mengisi Kekosongan
Tas yang tertinggal di tempat duduk stasiun
Didalam perjalanan kereta saya baru tersadar jika tas tertinggal di stasiun, saya terlalu terburu-buru untuk segera naik kereta agar dapat tempat duduk dan akhirnya melupakan tas di kursi tunggu “saya memang benar-benar teledeor” sekarang jam sudah menunjukan 01.25pm.
Saya harus berhenti di stasiun berikutnya dan menunggu kereta lagi untuk kembali ke stasiun awal. Benar-benar teledor dan sangat membuang-buang waktu, padahal saya punya janji pertemuan, semoga saja bisa sampai tepat waktu disana dan dia tidak menunggu dengan kecewa.
lagi-lagi waktu saya terbuang untuk menunggu kereta sekitar 10 menit, untuk menuju stasiun awal tadi saya harus menempuh waktu sekitar 20 menit. Lumayankan karena saya sudah melewatkan 4 stasiun kereta.
Sesampainya di stasiun awal saya bergegas menuju tempat dimana saya tadi meninggalkan tas. Dan ternyata disana sudah ada para penumpang yang sedang menunggu kereta, benar sekali tas saya sudah tidak ada.
Saya beranikan diri bertanya kepada mereka, namun tak satupun yang tau tentang keberadaan tas itu. Akhirnya saya bertanya kepada petugas kereta, dan alhamdulillah ternyata tas saya di simpan olehnya.
Saya ditanya tentang isi didalam tas itu. Untung saja saya masih ingat, karena isinya hanya sebuah laptop dan beberapa buku untuk saya baca di dalam perjalanan.
Sekarang jam menunjukkan pukul 02.10pm, ya tidak sadar saya sudah melewatkan waktu selama itu hanya untuk mengambil kembali sebuah tas. Saya benar-benar merasa bodoh hari ini.
Saya bergegas, tapi lagi-lagi saya harus menunggu sekitar 15 manit. Karena kereta sudah berangkat dan menunggu kereta selanjutnya.
***
Berdiri lagi di dalam kereta
02.25pm kereta datang dan saya dengan sigap naik lalu mencari tempat duduk, hari ini saya sedang tidak ingin berbagi tempat duduk kesiapapun. Walau itu orang tua sekalipun yang sedang berdiri.
Yang ada dalam fikiran saya saat ini adalah segera sampai ketempat tujuan dan bertemu dia.
Ini pun saya harus menunggu lagi sekitar 10 menit sebelum kereta berangkat, karena menunggu semua penumpang masuk kedalam.
Di tengah perjalanan ada ibu-ibu yang berdiri didepan saya, sudah saya bilang hari ini tidak ingin berbelas kasih dan berbagi bangku.
Tapi lagi-lagi ego kalah dengan rasa iba. Saya tengok kanan kiri tak ada seorangpun yang mau berdiri mempersilahkan ibu-ibu tua itu duduk.
Dengan terpaksa saya mengalah, ini selalu terjadi setiap naik kereta.Tak pernah full mendapat kursi sampai stasiun tujuan. Tapi tetap bersyukur saja masih di berikan kesempatan untuk saling berbagi.
***
Terlewat Stasiun
Karena bosan saya membuka buku yang saya bawa tadi, salah satu kebiasaan ketika dalam perjalanan, untuk mengisi waktu walaupun sambil berdiri.
Sanking asyiknya membaca, saya lupa turun di stasiun tujuan. Karena di sebelah saya sedikit berisik, jadi tidak terlalu fokus mendengarkan suara tante-tante yang memberitahukan tempat stasiun pemberhentian.
Pada akhirnya terlewat 2 stasiun dari stasiun tujuan saya. Lagi- lagi saya harus bergegas turun dan menunggu kereta untuk kembali lagi ke stasiun yang seharusnya menjadi tujuan saya.
Sekarang sudah pukul 02.59pm, tentu saja saya pasti telat. Saya sudah pasrah jika dia tidak lagi menunggu disana dan pulang sebelum saya sampai disana. Akhirnya kereta datang dan saya segera mungkin naik, dengan rasa bersalah saya hanya bisa pasrah.
Sesampainya di stasiun tujuan saya langsung bergegas turun dan segera menuju taman dimana kami berjanji untuk bertemu, jarak dari stasiun kereta bisa di bilang tidak dekat juga tidak terlalu jauh.
Tidak ada angkutan umum menujut kesana, jadi saya harus jalan kaki. Untuk mempercepat waktu saya harus berlari sesegera mungkin. Karena sekarang saya benar-benar sudah terlambat.
***
Jangan lupa baca juga : Taruntuk Kamu Seorang Teman Yang Bukan Sekedar Teman
Tuhan selalu memiliki rencananya sendiri
03.20 pm saya sampai di taman, dengan nafas terengah-engah lumayan jauh lari dari stasiun. Mata memandangai setiap sudut tempat taman mencari dia.
Sudah saya kelilingi taman itu namun saya tak menemukannya, dengan wajah lelah saya sangat menyesal karena kebodohan dan kecerobohan saya. Tentu saja dia pasti kecewa.
Mungkin sekarang dia sedang berjalan pulang karena lelah menunggu saya yang tak kunjung datang. Saya hanya bisa pasrah dan mulai merebahkan tubuh di taman, melepas lelah sejenak. Ya, rasa lelah bercampur sesal.
Saat mata memandang langit yang mulai mendung, tiba-tiba saya melihat senyumnya tepat di atas kepala saya. Tentu dengan tatapan dari mata sendunya.
"Akina?" Ucap saya dengan kaget bercampur bahagia tapi berasa halusinasi. Dia hanya tersenyum lalu mengatakan seseuatu.
“kamu lama, aku hampir saja pulang dan lelah menunggu. Tapi aku yakin kamu akan datang jadi aku kembali lagi kesini”. Sembari mengulurkan tangannya untuk membangunkanku.







